Bidadari Bermata Jingga
oleh Riani Kasih
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara lelaki mereka atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah; Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur [24]:3)
#
Seperti hari itu, seperti biasanya, hari ini tampak biasa-biasa saja. Angin berhembus biasa menyapu langit yang berwarna biasa, sedangkan awan bergerak biasa merubah-rubah bentuk melagukan hatiku yang tidak biasa. Kepalaku mulai kambuh lagi, pusingnya menusuk-nusuk. Aku masih di ruang kerjaku. Beberapa file masih tersisa, belum aku edit. Aku memilih pulang, hendak melanjutkan pekerjaanku di rumah saja. Kebimbangan muncul seketika, kuurungkan niatku untuk pulang, jam masih menujukan pukul 19.35 WIB.
”Hmmmmm…Ibu pasti menyita waktu kerjaku dengan ceramahnya, lebih baik aku teruskan di sini saja.” Batinku.
Jemari tanganku kembali menari diantara huruf-huruf kemudian membentuk kata-kata. Tanpa kuidahkan sakit di kepalaku.
Tentu Ibu marah. Ibu yang menyayangiku karena Allah. Ibu sangat paham aku. Meski bertahun-tahun aku tidak mendengarkannya. Aku terlalu sibuk dengan setumpuk kertas dan pensil ditiap lima waktu-Nya. Aku memilih tetap duduk di depan komputer jinjing (laptop) ketika lantunan Adzan magrib berkumandang hingga larut mengantarkanku untuk mengistirahatkan perasaanku.pada akhirnya aku melupakan waktu isyaku juga. Begitu setiap hari berlalu. Rutinitas yang sama, aku lupa tanggung jawabku. Islam cuma status di KTPku.
Tidak jarang di tiap lima waktuku, surga itu memanggilku.
“Luangkan waktumu, Marwa…!” Ibuku berseru dari balik dinding dapur, dia sedang berwudhu.
“Sebentar Bu, tanggung..!” ringan suaraku menyahut. Jika sudah demikian ‘tanggung’ selalu menjadi alasan yang jitu untuk sebuah kalimat yang sama keluar dari mulut Ibu.
Satu jam kemudian Ibu melantunkan ayat suci Al-Quran. Begitu merdu, juga syahdu. Tak bisa aku abaikan, hatiku tersentuh. Lama, aku terdiam di tepi tempat tidur, kusimak nyayiannya teratur. Ibu begitu merindukan kekasih-Nya. Aku? Entahlah, masih saja berpikir esok masih ada. Allah itu Maha Mengetahui, Maha Pengampun, Maha Melindungi.
Menit berikutnya, Ibu sudah berdiri di pintu kamarku dengan segelas air putih. Pelan dia mendekatiku. Aku mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk sisa mandi tadi.
“Wa, Imam Ahmad bin Hambal berkata “Orang yang meninggalkan shalat (dengan sengaja) adalah kafir, dan kekafirannya itu dapat mengeluarkan dari agama ini, (namun) jika tidak bertaubat dan mengerjakan shalat (kembali) maka dia harus diperangi” tangan Ibu merengkuh pundakku, mengusap rambut panjangku. Lalu meletakan kepalaku di dadanya. Aku merasa tentram di pelukannya.
“Kamu terlalu sibuk bekerja Wa, sholat saja kamu lupa, ndak baik hidup hanya memikirkan kehidupan dunia, kita sebentar saja di sini, nanti di akhirat kita kehausan, Wa”
“Kehausan apa?”
“Nyanyian surga, lantunan ayat-ayat-Nya!”
“Wanita soleha itu akan menjadi penghuni surga, bidadari bermata jingga”
“Ibu pengen sekali dengar kamu mengaji Wa, padahal waktu kecil kamu pandai mengaji, Ibu ingat benar itu.”
“Kamu pasti capek Wa, istirahat ya, Ibu hanya punya kamu sekarang” Pelukan Ibu semakin erat. Beberapa detik kemudian, pelan-pelan dilepasnya. Ibu meraih botol obat. Lalu mengambil satu tablet dan memberikannya kepadaku. Aku meminumnya.
##
“Wa, paras elok perilaku harus elok pula”
“Ndak baik lho wanita jam segini masih di luar rumah” katanya bulan lalu ketika aku pulang agak malam, padahal aku dari tempat kerjaku. Aku bekerja di sebuah redaksi majalah wanita muslim. Keluargaku hanya Ibu, sedang dua saudara kembarku, ayahku, nenek dan kakekku, menghilang di balik Tsunami dua tahun lalu.
Pernah lagi kutemukan Ibuku dengan jilbab panjang menutupi dada, mematung di cermin kamarnya. Ibu tahu aku ada di belakangnya, tampak dari pantulan cermin riasnya. Paras elokku diturunkan oleh dia rupanya, Ibuku. Dia kuat, tegar dan penuh pengertian.
“Wa, ada dua penduduk mereka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti seekor sapi, dengan mereka mencambuk manusia dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, mereka miring dan bergoyang, rambut-rambut mereka seperti punuk unta, mereka tidak masuk syurga dan tidak akan mencium baunya padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sekian dan sekian” lembut lantunan sabda Nabi keluar dari mulut Ibuku. Ibu tidak pernah menyisipkan senyum di tiap jeda kalimatnya, meski sudah tua, keriput pula wajahnya. Surga itu ada di telapak kaki wanita tua itu. Shahih Fiqih Wanita judul buku yang dipegangnya.
Semua tidak terjadi tiba-tiba, sudah dari Februari tahun lalu Ibu menyarankanku untuk memakai kerudung, menutup aurat katanya. Aku selalu banyak mengeles, berusaha menunda. Aku sebenarnya bukan tidak ingin menuruti kalimat-kalimat Ibu, tapi ada sesuatu yang masih mengganjal dihatiku, pastinya aku masih butuh banyak pertimbangan untuk menunaikan mau Ibu itu.
“Bu, jilbab itu tidak menjamin kalau aku perempuan baik-baik, masih banyak mereka di luar sana, muslim, berkerudung, tapi mereka telanjang!”
“Mereka juga masih menghujat teman sesama muslimnya, juga riya’” Tambahku. Tentunya hendak membenarkan lakuku tapi tidak bermaksud menyalahkan nasihat Ibu. Seketika murung wajah Ibu. Aku menyadarinya itu.
“Justru jilbab itu yang akan membedakan kamu dengan mereka Wa, jilbab itu yang akan menjaga hatimu, menjaga setiap pandangan matamu, menjaga setiap ucapanmu, menjaga setiap langkahmu, ini satu wujud cinta kita pada hadist-Nya..” Belum tuntas kalimat yang Ibu ucapkan, aku memotong.
“Bu, apa artinya cinta kalau kita menyakiti diri sendiri, menyiksa kaum sesamanya, cinta itu suci, cinta itu tak menyakiti”
“Apapun itu Wa, tiap sujud Ibu, Ibu berharap kamu wanita itu, wanita penghuni surga, wanita yang menyayikan nyayian surga”
Wajah tua yang tadinya murung berubah bingung.
“Apa artinya aku menyembunyikan rambutku, jika kulit pinggulku mengintip, apa benarnya jika kepalaku berjilbab tapi tanganku menggenggam tangan bukan muhrimku, apa maknanya jika aku sholat tapi aku dengki” Aku berhenti di situ, kugenggam tangan keriput Ibu.
“Lagi pula, susah aku mengerti Bu, di kantorku mereka menutup aurat mereka, tapi tidak memelihara lidah mereka, terkadang aku sendiri merasa ngeh jika mereka mulai bergosip” aku menarik nafas, memberi jeda pada kalimat berikutnya.
“Bukankah, kaumku akan terzalimi jika aku berjilbab tapi ketawaku cekikikan, berlian mahal menjerat leherku, ditambah lipstik tebal memolesi bibirku.”
“Islam akan dipandang rendah oleh mereka, hanya karena aku Bu, hanya karena kebodohanku, hanya karena aku yang mau-maunya menutup kepalaku tapi tidak hati dan pikiranku juga”
Ahhh…!
“Aku belum mampu meneguhkan jiwaku untuk menutup kepalaku dengan kudung Bu, hatiku belum mantap, aku masih ragu, aku takut mengecewakan diriku, Ibu, juga kaumku.” Aku masih berargumen dengan pandanganku.
Ibu memilih diam. Entah mencerna kalimat panjangku, entah menyimpan perasaan kecewanya terhadapku, aku bilang biarin. Aku melangkah masuk ke kamar dan kembali berkutat dengan tulisanku. Aku selalu teguh dengan segala pikiran serta pandanganku terhadap sesuatu. Tapi tidak bisa dipungkiri apa yang aku lontarkan barusan, adalah sebuah fenomena yang nyata keberadaannya. Mereka, juga aku masih mengingkari kitab kaumku. Aku sadar akan itu. Tapi, masih tidak bisa diragukan lagi di luar sana banyak juga mereka (wanita) yang menjaga auratnya dengan ikhlas karena Allah.
Semua bemula dari malam itu, kepalaku terasa berat, sepulang aku dari rutinitasku. Aku termenung di kamar. Pandanganku nanar, mendadak aku melupakan semua. Ketika aku sadar kupandangi tubuh tinggi itu. Alangkah eloknya paras itu, mata bening berwarna jingga, pipi putih bak kulit telur, dagu indah menawan layaknya lebah menggantung, segurat senyum dihasilkan dari perpaduan gigi putih yang rata serta bibirnya yang merah lalu basah. Semua terpantul dari cermin rias. Rambut tergerai panjang menyentuh pinggang. Itu aku rupanya. Lalu seketika kesempurnaan itu berubah menjadi kengerian, paras elok itu, menyisakan nanah meleleh dari kedua bola matanya, belatung menggerogoti bibirnya yang basah hingga tulang saja yang sudi tinggal.
Aku takut. Di antara ketakutanku nyayian surga melantun indah dengan ilmu tajwidnya. Gelap kembali meyuguhkan pengap.
Kakiku basah, aku memasuki selokan berlumpur hitam berbau amis, entah di belahan bumi mana saja aku berdiam. Semua terasa asing bagiku, karena hitam tak satupun yang bias kukenali. Aku menggigil.
Bukkkkk…….
Tubuhku ambruk, terseok-seok aku bangkit. Masih kupaksakan, karena sekali itu berarti sudah itu mati. Menyadarkanku kesempatan yang sama tidak akan pernah terulang kembali dalam keadaan yang persis sama. Sudah dua hari aku berjalan, malam yang pilu telah dilewatkanku, dingin pun ditepisku. Lapar masih tak terasa oleh perutku. Demi nyayian surga itu. Nyayian yang orang bilang mampu memabukan lebih dahsyat dari perasan cinta Romeo kepada Juliet, Rama kepada Sinta, Adam kepada Hawa.
Lima ratus meter jaraknya dari perempatan, aku bertemu lelaki tua dengan baju campingnya dilengkapi pula kopiah tua. Jelas tampak dari cahaya malam yang temaram. Lelaki itu tersenyum ke arahku.
“Nyayian surga itu ada di perempatan sana, kamu lurus saja, jangan menoleh dan jangan membelok sebelum perempatan itu. Seribu musim tak akan menghibur hati yang penuh amarah sampai kamu tiba di sana. Dimana lantunannya akan menentram perasaan yang dilafalkan oleh wanita berparas elok, halus budi pekertinya” Panjang lelaki itu berucap.
“Nyayian itu dilantunkan perawan nan elok rupanya. Perawan itu bidadari bermata jingga” tambahnya singkat.
Aku memilih mengikuti arah telunjuk tua yang gemetar.
Tanpa terima kasih. Aku melangkah dengan pasrah. Nafsuku untuk meneguk kententraman sungguh menguasai raga. Aku telah dimabukan oleh hausnya nyayian surga yang dilantunkan bidadari bermata jingga. Seperti bertahun-tahun saja aku tidak minum. Hausnya bukan main. Keadaanku sangat menyedihkan, aku masih menapak. Tiba-tiba aku ingat Ibu, di manakah dia? di manakah aku kini? Surga ataukah neraka, apakah aku sudah mati, Ya Allah, aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau beri, aku lalai, aku ingkar. Itukah musababnya keadaanku menjadi seperti ini. Aku bukanlah aku yang dulu. Keelokan dan argumenku tak berlaku di sini. Sesungguhnya kembali aku bertanya, di manalah gerangan aku berada.
Sementara segenap rasa kembali bercampur. Nyaian surga terus dilantunkan. Indah serta merdu merasuki kalbu. Satu rasa bertambah, dari haus menjadi rindu yang mendalam. Semakin dekat jaraknya, aku mulai merasakan tentram. Aku terus mengikuti suara itu, akhirnya aku menemukannya, nyayian itu berasal dari cahaya terang itu. Aku terus mendekati cahaya terang itu.
Sejengkal jaraknya, cahaya itu menarikku, aku tersentak. Kutemukan aku duduk bersimpuh, melantunkan nyayian surga, dengan kerudung putih yang mengeluarkan cahaya menyejukan. Aku menemukan diriku bermata jingga. Bagaimana mungkin, aku menyentuh tubuh itu, kembali aku tersentak.
“Wa, bangun sayang, jangan tinggalkan Ibu sayang!” suara itu asalnya dari Ibuku.
Aku bermaksud menyentuh tangan Ibuku, tapi perempuan berseragam putih menarik Ibuku. Ibuku menjerit, tangannya hendak menggapaiku.
“Pembuluh darahnya pecah,” Begitu kata perempuan berseragam kepada lelaki berseragam putih pula seraya memegang pergelangan tanganku, nadiku. Di sampingku, nenek, kakekku, dua saudara kembarku meraih tanganku, mereka merengkuhku. Aku tersentak. Aku meronta. Tapi, semua tak berarti apa-apa, semua adalah Kehendak-Nya. Jodoh, rezeki, maut ditangan Allah.
####
“…dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenengan yang besar.” (QS. An-Nisa’:13)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar